Selasa, 28 Agustus 2018



TOA EKSISTENSI
.
“Cak, apa komentar Sampean tentang Amin Rais yang menyebut Sandiaga sebagai ulama?” tanyaku kepada Cak Jumali.
.
“Saat ini, aku tak tertarik membicarakan politik.”
.
“Bukankah pernyataan politik Amin Rais itu menarik,” pancingku.
.
“Tidak! Aku sedang menunggu Cak Maskur untuk membicarakan hukum azan,” katanya sambil mengibaskan tangannya tanda tak termakan pancinganku. Tak lama Cak Maskur datang. Cak Jumali langsung meneriaki Yu’Jum untuk memesankan kopi tanpa gula, kesukaan Cak Maskur.
.
“Kur, tulung jelasno: apa hukumnya azan?”
.
“Ibnu Taimiyah dalam Majmu’atul Fatawa menyebut fardhu kifayah. Sedangkan Imam An-Nawawi dalam Minhajut Thalibin wa ‘Umdatul Muftin menyebut azan adalah sunah,” kata Cak Maskur menjelaskan.
.
“Nek duwe konco pinter iku enak, Cuk. Opo maneh iso moco kitab,” kata Cak Jumali sambil mengacungkan jempol tangan kanannya. “Wis sakiki jelasno: opo maksude fardhu kifayah?”
.
“Penjelasan pendeknya, fardhu kifayah azan itu kalau di kampung ini sudah ada yang azan, yang lain tak lagi diwajibkan untuk berazan.”
.
“Jadi tak semua masjid harus azan menjelang shalat?” Tanyaku.
.
“Masalahnya bukan satu atau dua masjid yang berazan, Gus. Tapi suara toa yang tumpang tindih di kuping kita,” kata Cak Jumali.
.
“Nah terkait dengan itu, aku pernah usul kepada kepala desa supaya satu masjid saja yang berazan dalam satu waktu dengan menggunakan toa luar, yang lainnya tetap azan dengan toa dalam. Diatur secara bergantian: kapan masjid blok tujuh, kapan masjid blok sembilan.” kata Cak Maskur.
.
“Nah iku cocok, aku setuju, Kur!”
.
“Tak sesederhana itu, Cak Jum,” bantahku. “Mana ada masjid di kampung kita ini yang mau tak terdengar suaranya. Wong masjid di blok tujuh itu dibangun karena pecah kongsi dengan masjid blok sembilan, itu masjid perjuangan, Cak. Suara yang keluar dari toa masjid-masjid itu menunjukkan eksistensi. Ada unsur kompetisi!”
.
“Sulit kalau ada unsur kompetisi, Cak,” kata Salamun yang diam sejak diskusi dimulai.
.
“Masjid-masjid kita ini mulai tak berbedah dengan bus antar kota antar provinsi,” kataku.
.

“Rumangsamu kampung iki terminal tha yo'opo?”
.
“Memang mirip dengan terminal, Cak. Sama-sama berisik.”
.
“Diamput!”
.
"Bhahahaa"
Next
Posting Lebih Baru
Previous
This is the last post.

0 komentar:

Posting Komentar