Selasa, 28 Agustus 2018


.
“Seperti dugaannku,” kata Cak Jumali sambil tersenyum sumringah melihat warung Yu' Jum ramai dikepung para penikmat kopi.
.
Para penikmat kopi ramai-ramai ingin mendengar spekulasi Cak Jumali tentang babak akhir drama pencalonan presiden dan wakil presiden dalam Pilpres 2019. Semua orang khusuk menyimak setiap kata laki-laki paruh baya itu.
.
“Jokowi tak lagi mengejutkan, padahal aku berharap dia menyentak para pemilihnya di ujung hari,” tandasnya.
.
“Bukankah terpilihnya Kyai Ma’ruf sebagai calon wakil presiden Jokowi adalah kejutan dari kubu Jokowi, Cak?” Tanyaku.
.
“Tidak! Sejak Kyai Ma’ruf menjadi salah satu motor 212, kemudian menjadi Ketua Dewan Koperasi 212, cicit Syaikh Nawawi al-Bantani itu sebenarnya telah ‘menggoda’ Jokowi.”
.
“Bagiamana nalarnya, Cak?”
.
“Dalam politik ada kaidah: jika kalian mendapati lawan yang tangguh: hancurkan atau ambil sebagai sekutumu.”
.
“Jadi gerakan 212 membuat Jokowi memperhitungkannya Kyai Ma’ruf?”
.
“Persis! Jokowi yang pada Pilpres 2014 dan sepanjang empat tahun memerintah dihantam isu anti-Islam, tak mungkin melakukan perlawanan sendirian, dia butuh simbol yang selama ini dibawa-bawa lawanya untuk melakukan perlawan balik.”
.
“Bagaimana kalau pertanyaanya dibalik,” kata Samuji yang duduk di sebelahku.
.
“Maksudmu?”
.
“Dengan diambilnya Kyai Ma’ruf sebagai Cawapres Jokowi; tidakkah justru memelihara perseteruan politik aliran, karena menggunakan kyai sebagai simbol agama dalam politik?”
.
“Kalau Jokowi tidak mengambil Kyai Ma’ruf, apakah ada jaminan kelompok sebelah tidak menggunakan isu agama dalam politik?” Cak Jumali balik bertanya dengan nada sengak. “Tidak akan! Sebab hari ini, yang paling laku dijual di lapak politik adalah agama,” tegasnya.
.
“Apa buktinya, Cak?”
.
“Untuk apa ijtimak ulama yang dihadiri oleh para politisi kemarin kalau bukan untuk mendorong simbol-simbol agama masuk dalam arena perebutan kekuasaan? Bahkan aku dengar ada yang usul agar diselenggarakan ijtimak ulama jilid dua saat UAS gagal bersanding dengan Prabowo,” kata Cak Jumali.
.
“Hari ini kopi gratis,” teriak Yu’ Jum sambil tersenyum lebar.
.
“Tumben, Yu’?”
.
“Aku sedang senang; Kyai Amin jadi Cawapresnya Pak Jokowi.”
.
“Kyai Ma’ruf Amin, Yu’. Bukan Kyai Amien Rais.”
.
“Kyai Amin Rais tidak jadi Cawapres?”
.
“Jadi, tapi di negara lain!” Kami menjawab serentak.
.
“Ga jadi gratis. Kopine emakmu tha gratis, bayar!” Teriaknya di tengah ledakan tawa kami.

0 komentar:

Posting Komentar