Selasa, 28 Agustus 2018


.
“Apakah untuk menjadi ulama, seseorang perlu bisa membaca kitab kuning?” Tanya Cak Wahab.
.
“Tidak, tapi..” jawaban Cak Maskur tak tuntas, Cak Wahab buru-buru memotongnya.
.
“Nah, jadi tak salah kalau Kyai Amien mengatakan bahwa Sandiaga adalah seorang ulama.”
.
Perdebatan antara Cak Maskur dengan Cak Wahab sudah terjadi hampir dua jam lamanya. Yu’Jum sudah berkali-kali menggebrak pintu warungnya untuk memberikan tanda agar perdebatan segera disudahi. Cak Jumali sampai perlu menenangkan istrinya agar bersabar menunggu perdebatan kedua orang itu selesai. “Mereka pelanggan warung kita, Jum,” kata Cak Jumali menenangkan.
.
“Cak Wahab, dengarkan dulu jawaban tuntas Cak Maskur, jangan main potong dan ambil kesimpulan sendiri begitu,” kata Salamun sengit. “Monggo dilanjutan, Cak Maskur.”
.
“Cak Wahab, seorang alim memang tak disyaratkan untuk bisa baca kitab kuning, namun mengingat tugas alim yang sangat berat siapapun yang ingin mendapat predikat alim dia harus menguasai ilmu agama secara luas.”
.
“Bisa disebutkan apa tugas ulama?” Tanya Cak Wahab.
.
“Tablig = menyampaikan, terdapat dalam QS al-Maidah ayat 67. Tabyin = menjelaskan, terdapat dalam QS an-Nahl ayat 44. Tahkim = memutuskan perkara, terdapat dalam QS al-Baqarah ayat 213. Terakhir uswah = memberikan contoh yang baik, terdapat dalam QS al-Ahzab ayat 21.” Cak Maskur diam beberapa saat, seolah memberikan kesempatan Cak Wahab berpikir. “Untuk bisa melaksanakan tugas itu, seseorang dengan predikat alim harus memiliki spesialisasi keilmuan sebagai: fukaha = ahli fiqih, muhaddist = ahli hadist, mutakallim = ahli kalam, atau mutawasif = ahli tasawuf.”
.
“Karena itu orang-orang hebat seperti al-Khawarizmi, al-Biruni, dan Ibnu Hayyan tidak disebut ulama, mereka hanya disebut ahli Ilmu Kauniyah, ahli ilmu keduniaan.” Aku memberanikan diri untuk ikut urun pendapat. ”Begitu juga failasuf, filosof dan hukama’, orang-orang yang memiliki kebjaksanaan seperti al-Kindi, al-Farabi, dan Ibnu Sina, mereka pun tak disebut ulama,” tambahku.
.
“Cak Maskur yakin, seorang alim dengan tugas demikian berat dengan spesialiasi ilmu agama yang luas tak dipersayaratkan untuk bisa baca kitab kuning?” tanya Samuji.
.
“Tidak, sebab sekarang kitab-kitab hadist, tafsir, fiqih, kalam, tasawuf, dan lain-lain lebih banyak dicetak dengan kertas putih dari pada kertas warna kuning,” candanya. Kami terkekeh-kekeh mendengar jawaban Cak Maskur. Cak Wahab terlihat mencecap kopinya saat kami tertawa.
.
“Tapi itu belum apa-apa, ada syarat lain yang lebih berat dari sekedar mengusai ilmu agama,” kata Cak Maskur buru-buru mengingatkan sesaat tawa kami redah. “Manusia dengan predikat alim dituntut memiliki watak khusus.”
.
“Watak apa, Kur?” Tanya Cak Jumali.
.
“Khasyya, ketundukan kepada Allah, seperti bunyi QS Fatir ayat 28.”
.
“Seandainya tak harus menguasai ilmu agama yang luas dan berwatak khasyya; aku yakin orang seperti Cak Jumali ini pasti sanggup menjadi santri sekaligus ulama,” kata Samuji dengan wajah serius.
.
“Syaratnya hanya membawa dua kardus, Cak!” Salamun menyambar.
.
“Dua kardus berisi daun?” Cak Jumali sengak.
.
“Bhahahaaa.”

0 komentar:

Posting Komentar