Selasa, 28 Agustus 2018


.
“Pernah dengar konsep Post-Islamisme, Cak,” tanyaku kepada Cak Jumali setelah kopi pesananku diantar Yu’ Jum.
.
“Sampean mau aku jelaskan Post-Islamisme yang diucapkan oleh Presiden PKS?” Tantangnya sambil tersenyum bangga.
.
“Tujuannku yo iku, Cak. Takon sampean tentang ucapan Cak Sohibul.”
.
“Asef Bayat, seorang sarjana Iran yang mempopulerkan istilah itu. Post-Islamisme merupakan kecenderungan fragmatisme partai-partai berideologi Islam yang memiliki hubungan ideologis dengan Ihkwanul Muslimin (IM) seperti: PKS di Indonesia, AKP di Turki, Ennahda di Tunisia, Partai Keadilan dan Pembangunan di Maroko, dan Hizb al-Wasat di Mesir.”
.
“Pragmatisme yo’opo, Cak?”
.
“Partai-partai tersebut tak lagi ngotot menerapkan skema Islam-ideologis seperti penerapan hukum syariah secara kaku dalam kehiduansehari-hari, tapi berdamai dengan kecenderungan politik saat ini. Bahkan pada September tahun ini, Erdogan yang berasal dari AKP tak malu-malu mempromosikan sekulerisme di Mesir.”
.
“Jadi itu yang membuat Cak Sohibul menyebut Sandiaga sebagai Santri Post-Islamisme: santri yang bisa menerima pragmatisme politik dan ide sekulerime dalam tubuh partai Islam?”
.
“Yang jelas, tak akan jauh-jauh dari pragmatisme politik.”
.
“Kalau hanya sekedar pragmatisme politik, mengapa tak pilih UAS saja, yang jelas-jelas seorang santri,” tanya Samuji sambil menyandarkan punggungnya di pohon waru.
.
“UAS tak akan sanggup melawan seniornya, Kyai Ma’ruf!”
.
“Lho, memang Sandiaga sanggup melawan kharisma Kyai Ma’ruf?”
.
“Tak akan sanggup juga, tapi Sandiaga beda dengan UAS.”
.
“Apa Bedanya, Cak?”
.
“UAS tak akan datang membawa kardus, sedangkan Sandiaga datang membawa kardus. Kardus-kardus itulah yang akan digunakan untuk melawan kharisma Kyai Ma’ruf.”
.
“Kalau begitu Cak Sohibul salah,” kata Samuji.
.
“Salah bagaimana, Ji?” Tanya Cak Jumali.

“Harusnya tak disebut santri kardus, Cak. Bukan santri kantor pos. ”

“Bhahahahaha.” Cak Jumali terbahak-bahak sampai cangkir kopinya jatuh.

0 komentar:

Posting Komentar