Selasa, 28 Agustus 2018

PECAH!



“PKS sedang pecah, Cak,” kataku memanasi Cak Jumali untuk bicara politik.
.
“Isu lama, Gus,” jawabnya enteng seolah tak tertarik bicara politik.
.
Sejak warung Yu’ Jum menjadi ajang perdebatan antara Cak Maskur dan Cak Wahab, Cak Jumali memang tak lagi bicara politik. Hatinya seperti terseret ke dalam pengetahuan-pengetahuan baru tentang agama yang dibabar oleh Cak Maskur. Bagi para pelanggan kopi, itu bukan kabar bagus, warung Yu’ Jum harus dikembalikan ke khittahnya; khittah politik, dan Cak Jumali harus tetap sebagai Begawan politik di warung istrinya.
.
“Jadi Sampean sudah tahu klo PKS pecah?”
.
“Itu kan bukan isu baru,” jawabnya. Umpanku mulai dimakan Cak Jumali.
.
“Sampean belum cerita soal perpecahan PKS kepada kami, Cak.”
.
“Iyo tha?”
.
Kena kau! Batinku sambil pura-pura menggeleng untuk meyakinkan.
.
“PKS sudah lama terbelah menjadi dua faksi: ‘faksi keadilan’ dan ‘faksi sejahtera.’”
.
“Oh ya?” aku, Samuji, dan Salamun bertanya serentak
.
“Faksi keadilan terdiri dari orang-orang yang disebut konservatif, sedangkan faksi sejahtera menyebut dirinya sebagai kelompok pembaharu,“ jelasnya. “Bagi faksi keadilan, orang-orang dalam faksi sejahtera adalah kelompok liberal. Mereka yang disebut liberal antara lain Anis Matta, Fahri Hamzah, dan Mahfudz Siddiq. Sedangkan mereka yang disebut konservatif adalah Hilmi Aminuddin, Suripto, Salim Segaf Al-Jufri, dan Sohibul Iman.”
.
“Suripto yang mantan anggota BIN itu, Cak?” Tanyaku.
.
“Siapa lagi Suripto di PKS?” Cak Jumali balik bertanya.
.
“Dalam faksi keadilan pun tak kompak, aku dengar ada dua kubu, Cak. Kubu Hilmi dan kubu Salim Segaf?” tanyaku.
.
“Diamput! Wis eruh, athek takon barang.”
.
“Bhahhaaa..” kami tertawa.
.
“Ketika Ketua Majelis Syuro berganti dari Hilmi kepada Salim Segaf, perang besar sebenarnya hampir berkecamuk, namun tak jadi.”
.
“Kok iso?”
.
“Mereka mengabaikan permusuhan karena sama-sama menghadapi faksi sejahtera yang dimotori Anis Matta.”
.
“Aku dengar, Hilmi dengan Suripto juga tak kompak, Cak?” Tanyaku.
.
“Wah ga eruh lek isu perpecahan Hilmi dan Suripto.”
.
“Yang aku dengar karena latar belakang mereka: Hilmi adalah anak Danu Muhammad Hasan tokoh DI/TII, sedangkan Suripto adalah mantan anggota BIN, agen binaan LB Moerdani.”
.
“Kabar itu salah! Danu memang orang DI/TII tapi dia binaan Ali Murtopo melalui perwira Operasi Khusus benama Aloysius Sugiyanto. Danu dan Suripto adalah orang dari gerbong yang sama: BAKIN dan BIN. Makanya aku tak percaya kalau Hilmi dan Suripto pecah kongsi karena latar belakang intelijen itu.”
.
“Jadi yang benar?”
.
“Yang benar, PKS tak nyaman dalam koalisnya sekarang?”
.
“Maksudnya bagaimana, Cak?”
.
“Saat PKS menyiapkan sembilan kadernya untuk menjadi Cawapres Prabowo, tak satu pun yang diambil. Ketika PKS menjadi motor ijtima’ ulama, rekomendasi ijtima’ pun tak lirik. Kursi wakil gubernur DKI yang ditinggalkan Sandi pun tak diberikan kepada PKS. Yang paling menyakitkan, saat PKS bersiap membantah terkait uang 500 miliar, Sandi justru mengakuinnya.”
.
“Pasti sakit banget, Cak,” kata Samuji sambil meraba dadanya.
.
“Apa karena itu mereka tak mau bikin tagar ‘Prabowoforpresident’ atau mendeklarasikan ‘Prabowopresidenmasadepan’?” Tanyaku.
.
“Apakah mungkin PKS keluar dari koalisi?” Salamun memberikan pertanyaan susulan.
.
“Bisa jadi, tho tak ada dalil dan tak disyariatkan dalam agama bahwa PKS harus mendukung salah satu pasangan calon,” kata Cak Jumali serius.
.
“Omongmu wis koyok Wahab, Jum!” kata Yu’ Jum sambil berlalu.
.
“Bhahahaaaa.”

0 komentar:

Posting Komentar