Selasa, 28 Agustus 2018



Siapa musuh utama para pemenang? Sekutu dekatnya! Ya, kelompok atau orang-orang yang selama perebutan kekuasaan berjibaku mendukung, mengelu-elukan, dan membela mati-matian agar seseorang bisa berkuasa. Setelah kekuasaan didapat, mereka tak hanya ditinggalkan, juga “dihabisi.” Empat peristiwa sejarah berikut ini membuktikan hal tersebut!

1. Pada abad ke-8, saat berdirinya Dinasti Abbasiyah hal itu pernah terjadi. Dinasti itu didirikan oleh Abu Abbas as-Saffah (Abdullah Ibnu Muhammad), Abdullah Ibnu Ali, Abu Muslim al-Khurasani, dan Abu Salamah al-Khilah. Bagaimana nasib para para sekutu dan pendukung as-Saffah? Tragis! Abu Salamah dibunuh as-Saffah, Abdullah Ibnu Ali dibunuh Abu Muslim al-Khurasani atas perintah Abu Ja’far al-Mansyur, khalifah kedua Dinasti Abbasiyah. Setelah misi pembunuhan terhadap Abdullah Ibnu Ali berhasil, Abu Muslim al-Khurasani dihabisi sendiri oleh penerus as-Saffah tersebut (Ibnu Atsir: al-Kamil fil Tarikh).

2. Pada akhir abad ke-13, Nararya Wijaya (menantu Prabu Kertanegara) berhasil merebut kekuasaan Kediri dan mengusir Bangsa Mongol dari bumi Jawa berkat kecerdikan dan kehebatan sekutu mereka, Wiraraja dan keluarga besarnya: Ranggalawe, Sora, dan Nambi. Apa yang terjadi setelah Negara Majapahit berdiri? Para pendiri dan pahlawan itu dihabisi dengan cap sebagai pemberontak, terakhir tanah perjanjian Lumajang dan Tigang Juru (Blambangan, Panarukan, Madura) dirampas paksa oleh Majapahit (berbagai sumber termasuk Novel Ranggalawe: Sang Penakluk Mongol).

3. Pada 1966-1967, selain Angkatan Darat (AD), Nahdlatul Ulama’ (NU) bisa dibilang sebagai kekuatan utama Soeharto dalam merebut kekuasaan. Massa NU di akar rumput berjibaku menggilas kekuatan sisa PKI. Para intelektualnya memobilisasi demonstrasi anti PKI di kota-kota besar yang dimotori Subchan ZE. Mesin politik NU di parlemen memuluskan pengambilalihan kekuasaan Soekarno secara konstitusional melalui Memoradum Nurddin Lubis dan Djamaluddin Malik (Feillard: NU Vis-à-vis Negara.) Saking besarnya sokongan NU kepada Jenderal Soeharto, Mayjen Mokoginto, Panglima Militer Sumatera saat itu mengatakan bahwa “Angkatan bersenjata ‘menyerahkan’ tentaranya kepada NU dan sebaliknya” (Berita Yudha: 3-3-1966). Apa yang terjadi setelah Orde Baru kuat secara politik dengan memenangkan Pemilu 1971? Duta Masyarakat, media massa NU dilarang terbit. Subchan ZE, politisi brillian NU itu meninggal di Makkah dengan meninggalkan seribu pertanyaan, dan NU sendiri sepanjang kekuasaan orde baru menjadi kekuatan yang “tersingkirkan.”

4. Pada Pemilu 1982 para bandit direkrut oleh penguasa: untuk kepentingan mobilisasi kampanye dan agen provokasi. Setelah kekuasaan bisa dipertahankan, bagaimana nasib mereka, kehidupan para bandit itu membaik? Sebaliknya! Sepanjang 1982-1983 pemerintah justru melancarkan gerakan pemusnahan berkelanjutan dengan operasi bernama “penembakan misterius” (Robert Cribb: Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949).

Masih mau mendukung para pemburu kekuasaan mati-matian sampai merendahkan agamamu?

0 komentar:

Posting Komentar