Selasa, 28 Agustus 2018





“Wahab, mana solidaritas Islam yang kau gembar-gemborkan selama ini saat Saudi dan sekutunya membantai anak-anak Yaman?” Tanya Salamun dengan nada tingggi. “Tahu kau Hab-Wahab, serangan Saudi dan sekutunya telah menewaskan 62 anak sepanjang 9-23 Agustus?” Salamun sampai lupa menyebut “Cak” kepada kepala SMP itu.
.
Cak Wahab diam tak bergerak diberondong pertanyaan Salamun dengan nada marah. Salamun pantas marah, kita semua marah terhadap tindakan brutal Saudi dan sekutunya: Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, Mesir, Yodaniah, Sudan, Pakistan, dan Amerika terhadap para muslim Yaman. Bisa dibayangkan, berapa anak yang tewas jika rata-rata lima orang anak mati setiap hari selama serangan Saudi dan sekutunya. UNHCR merilis data yang menyebutkan bahwa lebih dari 6.000 orang Yaman meninggal, jutaan lainya terserang kolera secara masif, dan menjadi pengungsi sejak serangan 2015.
.
“Bagaimana bisa negara yang berjuluk ‘penerima tamu Allah’ menjadi jagal bagi para muslim lainnya?” Tanyanya dengan nada tetap tinggi. “Apakah kita masih bisa beribadah secara khusyuk di tanah suci jika tuan rumah tangannya berlumuran darah saudara-saudara kita?”
.
“Apa sebenarnya kepentingan Saudi terhadap Yaman, Cak Jum?” Tanyaku kepada Cak Jumali yang diam sejak awal kemarahan Salamun terhadap Cak Wahab. Aku bermaksud mengendorkan kemarahan Salamun kepada Cak Wahab dengan cara bertanya, sebab kepala sekolah itu terlihat tak berkutik dihujani pertanyaan Salamun.
.
“Banyak kepentingan yang berkelindan, baik bagi Saudi maupun negara arab lainnya, seperti Uni Emirat Arab. Bagi Saudi: selain perbatasan dan sumber minyak, ideologi adalah variable penting yang harus diamankan. Houthi adalah kelompok perlawanan pro-Iran yang berideologi Islam Syiah. Syiah adalah musuh bebuyutan Wahabisme, ideologi Saudi.”
.
“Uni Emirat Arab apa kepentingannya?”
.
“Negara kaya itu mengincar pulau Socotra, milik Yaman agar bisa menguasai rute utama perairan yang membentang dari ujung selatan Semenanjung Arab hingga Afrika,” Jawabnya. Harus aku akui, suami tukang kopi itu pengetahuannya tentang kawasan teluk di atas rata-rata kami, anak-anak muda. “Rute maritim saling silang itu digunakan untuk pelayaran utama dunia; tanker-tanker yang membawa minyak mentah dari produsen utama Teluk Persia menuju Eropa melewati jalur itu, terutama di sepanjang Laut Mediterania.”
.
“Jadi pembantaian di Yaman tak lebih dari urusan sumber daya ekonomi, Cak?”
.
“Apalagi? Negara-negara Arab dari dulu berperang hanya urusan perut!” Salamun menghardik.
.
“Kita harus menggalang solidaritas untuk Yaman, Cak.” Usulku.
.
“Tak akan laku! Orang-orang seperti Wahab ini tak akan mendukung. Mereka hanya akan bergerak menggalang solidaritas jika ada insentif politik di dalam negeri!” Kata Salamun tak mengendorkan sedikitpun nada suaranya.
.
Untung Cak Wahab telah meninggalkan pasamuhan, kalau masih ada di tempatnya, aku khawatir terjadi adu fisik antara Salamun dengan kepala sekolah itu. Cak Wahab meninggalkan warung kopi Yu’ Jum saat Cak Jumali menjelaskan kepentingan Saudi dan sekutunya memerangi Yaman.
.
“Jadi apa yang bisa kita lakukan sekarang?” Tanya Samuji yang diam sejak kemarahan Salamun memuncak.
.
“Habiskan kopimu dan bayar, Cuk!” kata Cak Jumali.
.
“Diamput!” Balas Samuji.
.
“Bahahahaa.” Kami terkekeh melihat raut wajah Samuji mendengar jawaban Cak Jumali.
.
#saveyaman
-------------------------------

0 komentar:

Posting Komentar