Selasa, 28 Agustus 2018


.
“Kalau Si Wahab macam-macam, aku yang akan menghadapi,” kata Cak Jumali dengan wajah dingin.
.
Baru saja, aku melaporkan kepada Cak Jumali bahwa acara yang kami susun untuk memperingati hari kemerdekaan ditentang oleh Cak Wahab, kepala SMP. Menurutnya, tak ada tuntunan dalam agama memperingati kemerdekaan negara dengan cara seperti yang akan kami selenggarakan. Padahal acara yang sama telah kami lakukan setiap tahun: selamatan hari proklamasi!
.
Mula-mula Mbah Sumo, Kakeknya Yu’ Jum, pemilik warung kopi, tempat di mana kami biasa cangkruk yang melakukan tradisi peringatan tujuh belasan dengan cara unik. Menurut cerita Yu’ Jum, sejak tahun kedua kemerdekaan, setiap menjelang tujuh belas Agustus, keluarga besar Mbah Sumo melakukan ngebleng: tak makan-minum dan tak tidur, dari 16 Agustus pukul 03.00 sampai 17 Agustus pukul 10.00. Menjelang mokak, babak akhir ngebleng, biasanya keluarga itu mengundang tetangganya untuk selamatan; makan nasi gurih berlauk mangut ikan asap, sambal kelapa, dan jajanan pasar yang mereka buat.
.
Tradisi keluarga Yu’ Jum itu bermula saat Mbah Sumo bekerja di rumah Kyai Ridwan sebagai pengantar kopi, 73 tahun lalu, saat itu dia masih remaja. Pada 17 Agustus 1945, sekitar pukul 19.00 Sumo diminta mengantarkan kopi untuk para tamu Kyai yang duduk di ruang dalam. Saat masuk di ruang untuk mengantar kopi, Sumo melihat Kyai dan para tamu khusuk mendengar benda kotak yang bisa mengeluarkan suara, belakangan dia baru tahu benda yang bersuara kremesek itu bernama radio. Tak bebera lama, radio itu dimatikan, orang-orang di ruang dalam, termasuk Kyai Ridwan berteriak “MERDEKA!”
.
Paginya, sesaat setelah saur, Kyai Ridwan mengumpulkan para santri untuk menjelaskan isi siaran radio. Dalam pasamuhan pagi itu, Kyai mengatakan bahwa Sukarno dan Hatta telah menyatakan kemerdekaan Bangsa Indonesia dari penjajah di Jakarta. Hiruk-pikuk pun segera memenuhi pekarangan pesantren, Sumo segera berlari, sesaat kemudia dia sudah menabuh kentong titir sambil beteriak: merdeka, kita telah merdeka! Sejak saat itu dia berjanji, dirinya dan anak cucunya akan melakukan ngebleng untuk memperingati peristiwa itu, sebagai bentuk penghargaan terhadap para pemberani yang telah berjuang untuk memerdekaan bangsanya.
.
Yu’ Jum mewarisi tradisi ngebleng itu dari bapaknya, setengah keluarga kampung kami juga melakukan tradisi ngebleng ala Mbah Sumo. Bahkan sejak Cak Jumali menjadi suami Yu’ Jum, ada tradisi ziara ke kuburan Kyai Ridwan dan Mbah Sumo untuk mendoakan. Setelah itu orang-orang kampung akan berkumpul di halaman masjid untuk selamatan sebagai tanda berakhirnya ngebleng.
.
Akhir-akhir ini tradisi ngebleng dan selamatan untuk memperingati kemerdekaan ditentang oleh Cak Wahab dan para ustadz yang datang di kampung kami. Namun bukan Cak Jumali jika tak melakukan perlawanan balik. Suami Yu’ Jum itu bahkan telah merancang kagiatan tambahan untuk para remaja; Manakib Proklamasi.
.
“Dari mana dapat istilah Manakib Proklamasi, Cak?” Tanyaku.
.
“Siapa lagi kalau bukan dari Cak Maskur,” jawabnya sambil melirik Cak Maskur. Guru ngaji yang duduk di sebelahnya itu hanya tersenyum.
.
“Jelasno po’o artine Manakib Proklamasi, Cak,” kataku kepada Cak Maskur. “Sebagai ketua panitia, aku harus tahu kalau tiba-tiba dipaksa Cak Wahab untuk menjelaskan.”
.
“Wahab bukan urusanmu, Gus. Dia bagianku!” Kata Cak Jumali kepadaku.
.
“Iya, Cak. Tapi aku tetap harus tahu, apa maksud Manakib Proklamasi.”
.
“Dalam Bahasa Arab, manakib itu jamak dari manqabah, yang berarti tariq munfidz fi al-jibal.”
.
“Kur, jelaskan dengan Bahasa Indonesia saja, arek-arek iki tak bakal paham penjelasanmu yang menggunaan istilah Arab itu,” kata Cak Jumali kepada Cak Maskur. Aku, Samuji, dan Salamun tersenyum sambil mengacungkan jempol ke arah Suami Yu’ Jum itu.
.
“Manakib itu artinya: jalan yang terbentang menuju puncak gunung, dalam keseharian kata itu digunakan untuk menunjuk perbuatan mulia, luhur dan terpuji.”
.
“Kalau ada istilah Manakib Syaikh Abdul al-Qadir Jailani itu artinya memuliakan Sang Syaikh?” Tanya Samuji.
.
“Persis, dengan cara menceritakan kisah hidup; kemuliaan, keluhuran, dan sifat terpuji Sang Syaikh.”
.
“Aku sekarang mengerti, Cak,” kata Samuji. “Manakib Proklamasi yang Cak Jumali rancang itu untuk memuliakan, meluhurkan, dan mengingat perjuangan para perintis kemerdekaan dengan cara mengisahkan sejarah mereka.”
.
“Benar, termasuk mengingat jasa orang-orang seperti Kyai Ridwan dan Mbah Sumo,” kata Cak Maskur.
.
“Makanya, ngaji yang pintar seperti Cak Maskur,” kata Cak Jumali.
.
“Biar apa, Cak?”
.
“Biar tak goblok, cuk-diancuk!”
.
Kami terbahak-bahak setelah dipusuhi Cak Jumali.

0 komentar:

Posting Komentar