Selasa, 28 Agustus 2018



Sambil berencana ngutang, dua orang melakukan percakapan aneh di warung kopi Yu’ Jum.
.
“Hari ini, “ katanya. “Menggunakan nama depan raden tak ada bedanya dengan menggunakan nama lainnya.”
.
“Mengapa begitu, Mas?” Tanyaku.
.
“Sampean pikir dengan menggunakan nama depan raden, aku bisa memerintahkan orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, seperti moyangku dulu?”
.
“Memang tidak, Mas.”
.
“Nah, karena itu aku berencana mengganti nama depanku: ‘raden’ menjadi ‘ustadz’ di pengadilan,” katanya. “Julukan ‘ustadz’ jauh lebih mudah digunakan untuk mengumpulkan massa dibanding sebutan ‘raden’ yang aku sandang ini.”
.
“Tak perlu repot-repot, Mas!” Kataku. “Sampean saya ajari ngaji, hafalkan beberapa ayat, dan baca buku-buku agama saya. Kalau sampean sudah yakin bisa melafalkan ayat-ayat itu dengan baik, berceramahlah, rekam, dan unggah di medsos. Lakukan berulang-ulang, unggah terus-menerus, sebentar kemudian sampean akan disebut ulama oleh rakyat medsos. Setelah itu sampean bebas mengumpulkan para politisi lain untuk berembuk dengan tajuk: Ijtima' Ulama Sedunia.”
.
“Ngawur! Sebutan ulama itu berat.”
.
“Itu dulu, Mas. Sekarang siapa saja boleh menyebut dirinya ulama, termasuk para politisi seperti sampean.”

“Diamput!” Pisuhnya sambil terkekeh.
--------

0 komentar:

Posting Komentar