Selasa, 28 Agustus 2018


.
Sambil menikmati kopi dan kretek: aku, Tarjo, Samuji, dan Salamun setia menyimak kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulut Cak Jumali: sarjana ilmu politik yang memilih bekerja membantu di warung kopi istrinya, Yu’ Jum.
.
“Mengapa baru diucapkan sekarang?” Cak Jumali menggantung pertanyaanya di kepala kami. Matanya tajam menatap kami, sebagaimana mata politisi yang sedang meyakinkan para pendukungnya. Kami menunggu jawaban laki-laki pendukung fanatik Timnas Argentina itu. Dia menghisap kreteknya dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya.
.
“Bukankah sejak lama agama telah diperdagangkan untuk kepentingan kekuasaan? Allah, surga, malaikat, perang badar, jihad, dll diseret paksa oleh para politisi ke dalam gelanggang politik, hanya untuk memenangkan perebutan kekuasaan!” Kalimat Cak Jumali penuh tekanan, tangannya bergerak menuding-nuding wajah Tarjo dan wajahku.
.
Aku bermaksud membantah Cak Jumali, tak setuju dengan kalimat yang menyebut “Allah, surga, malaikat, perang badar, jihad, dll diseret paksa.” Belum sempat aku mengucapkan kalimat sanggahan, Cak Jumali telah melanjutkan kalimatnya.
.
“Kumpul-kumpul para politisi yang menyebut dirinya para ulama itu adalah rangkaian dari festival dagang agama! Untuk apa baru dipersoalkan sekarang? Bukankah kegiatan mempolitisasi agama, menjadikan agama sebagai komoditas politik telah dimulai sejak perhelatan politik empat tahun lalu?”
.
“Cak Jumali sedang membicarakan siapa?” Tanya Samuji.
.
Jumali tak menjawab, dia malah mengajukan pertanyaan baru. “Apakah dia sudah minum obatnya? Pernyataannya tak seperti biasanya, bukankan dia alumni…”
.
“Siapa maksud, Cak Jumali?” Tarjo memotong.
.
“Siapa lagi kalau bukan…” Jumali tak menuntaskan kalimatnya.
.
“Sopo, Cak?” Tanya kami bersamaan.
.
“Makne Diancuk!" Pisuh Cak Jumali. "Aku lupa merebus air," lanjutnya sambil berjalan ke arah Yu’ Jum yang terlihat kesal di kejauhan.

0 komentar:

Posting Komentar